Hujan sore ini mengingatkanku pada pohon rambutan yang dihiasi banyak bunga. Sebentar lagi pasti setiap dahannya akan sedikit condong kebawah menahan beban buah yang bergerumbul warna merah. Aku akan senang sekali melihatnya. Aku akan segera bersiap untuk memanjat dan memanennya dengan tanganku sendiri.
Lalu kamu mematahkan harapanku.
Kamu kembali mengingatkan bahwa aku ini takut ketinggian. Aku juga takut pada ulat.
Tapi bukankah aku tidak akan menjadi berani sebelum aku berhasil mengalahkan takutku?
Dan kamu bilang aku tidak perlu berusaha menjadi berani untuk hal-hal yang tidak seharusnya. Kamu bilang memanjat pohon bukan pekerjaan wanita. Katamu aku tidak perlu kebanyakan tingkah, seharusnya aku diam di dalam rumah. Menonton drama dan menikmati keripik kentang yang kau bawa.
Kamu bilang ada hal lebih besar yang patut untuk ditakuti. Aku harus menyimpan tenaga yang mau kugunakan untuk belajar berani itu pada saat yang tepat.
Dan saat inilah akan kugunakan. Aku berjalan sendiri, kau telah meninggalkanku. Aku berjalan pelan membawa nasehat-nasehatmu. Aku melewati keadaan yang terlalu menghimpit, situasi yang sangat menakutkan dan berbagai hal yang tidak menyenangkan. Ada yang harus kukatakan padamu, tenagaku hampir habis untuk mengumpulkan keberanian pada saat-saat seperti itu. Dan benar katamu saat dulu. Menyimpan tenagaku saat itu sangat tepat. Sekarang aku telah berhasil melewatinya. Aku juga sudah menertawai banyak hal selama pengembaraanku ini. Aku tertawa karena banyak tempat-tempat indah yang kutemui. Aku menemui banyak orang yang pada akhirnya mau ku sebut sebagai teman dan sahabat, bahkan keluarga. Aku juga pernah tertawa karena orang beda kota yang masuk rumah makan yang sama denganku, kamu tau apa yang dia lakukan?? Dia memesan es dawet di rumah makan padang. Sebenarnya aku ingin tertawa terpingkal. Bukan karena ketidaktauan pembeli itu. Tapi melihat ekspresi pelayan rumah makan itu. Akhirnya, dia disuguhi es teh. Mungkin itu cara menyenangkan hati orang lain.
Dan asal kamu tau, bahwa tertawa tanpamu itu sama sekali bukan kebahagiaan.
Maaf, seperti biasa, aku memang tidak bisa menyembunyikan banyak hal. Aku selalu ingin membagi hidupku denganmu. Bahkan ketika kau tidak disampingku. Saat ini aku hanya bisa menyimpannya dalam diaryku, berharap suatu saat kita bertemu dan kau akan membacanya. Semoga kau bukan orang sibuk dan punya banyak waktu untuk melakukannya. Supaya kamu tau, bahwa aku sudah melewati semuanya. Dan..... tanpamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar