Hari ini aku bahagia. Bukan, bukan karena aku sedang ber-ulang tahun. Tetapi, karena ada seorang wanita yang sedang berbahagia di hadapanku.
Tepat dua puluh dua tahun yang lalu, wanita ini mendapatkan hari yang paling membahagiakan untuknya. Ketika makhluk mungil yang tidur lelap di rahimnya, yang ia bawa serta ke mana pun ia pergi, yang ia jaga sepenuh hati selama sembilan bulan lebih tiga belas hari, akhirnya tiba di pangkuannya.
Senyum bahagia dan air mata haru, dengan itu ia menyambut kehadiranku. Kemudian, cintanya menyertai pertumbuhanku sampai pada hari ini. Dua puluh dua tahun sudah. Dan hal itu akan tetap ia lakukan selamanya.
Mungkin kebersamaan kami hari ini tak cukup untuk menebus seluruh waktu yang telah ia curahkan padaku. Mungkin segala hidangan istimewa yang sedang kami nikmati saat ini tak akan pernah mampu menandingi masakan terbaik yang selalu ia suapkan padaku, yang diolah dengan tangannya sendiri,yang ia pastikan kualitasnya dan bumbu cinta yang tak akan ku dapatkan di restoran manapun.
Apapun yang telah ku perjuangkan untuknya tak akan mampu membayar pengorbanannya, mempertaruhkan nyawanya agar aku sampai pada dunia ini.
"Ibu, aku berhutang banyak padamu. Kasih sayangmu, jiwa ragamu, seluruh hidupmu - yang kau habiskan untuk memberi segala yang terbaik padaku. Kau mengajariku dari yang tak ku mengerti hingga aku tau banyak hal. Kau selalu membuatku kuat bagaimanapun keadaannya. Kau selalu peduli tentang banyak hal dalam hidupku. Kau selalu ada untuk membimbingku. Ketika aku jatuh, kau ada di sampingku. Bersamamu, aku tak pernah takut untuk bermimpi. Dan karenamu, aku merasa berharga setiap hari."
Selamat hari bahagiamu yang ke dua puluh dua, ibu. Betapa aku ingin selalu melihat senyum bahagia di wajahmu. Dan akan ku lakukan apapun untuk itu.
Aku menyayangimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar